KEMBALI KEPADA AL-QURAN


AL-QUR’AN BUKAN KARYA NABI
            Banyak orang Barat yang berpendapat dan menyangka, bahwa al-Qur’an itu hasil kecerdasan (baik itu IQ, EQ, maupun SQ) Nabi Muhammad. Hal dan anggapan itu tentulah sangat salah sekali jika kita jawab menurut penuturan agama. Tapi bagaimanakah logika Muslim berjalan ketika ada pendapat seperti itu? Tentulah beberapa penjelasan dibawah ini bisa kita gunakan untuk menyanggah pemikiran mereka.
            Jika al-Qur’an adalah buatan Nabi Muhammad, lalu mengapa ketika terjadi berita bohong yang disebarkan oleh kaum munafik bahwa Siti Aisyah selingkuh dengan Shofwan bin Mu’aththal As-Sulami untuk merusak citra Rasulullah dan Abu Bakar r.a., Nabi Muhammad tidak langsung membantah berita tersebut, tapi beliau menunggu jawaban dari Allah sampai akhirnya turun surat An-Nur? Kalau al-Qur’an itu datang dari Nabi Muhammad, mengapa harus menunggu satu bulan dalam kesedihan, bukankah beliau bisa langsung membantah kabar itu?
            Atau, ketika perang tabuk, ada seorang munafik mengajukan dalih supaya tidak ikut perang dan Nabi Muhammad mengizinkan. Lalu, turun surat At-Taubah ayat 43, yang menegur sikap Rasulullah tersebut. Kalau al-Qur’an itu karya Muhammad, lantas mengapa al-Qur’an itu menyalahkan keputusan Nabi Muhammad?
            Atau, kisah Nabi Muhammad yang memalingkan wajah dari Abdullah bin Ummu Maktum r.a., karena Nabi sedang melayani seorang pembesar Quraisy, mengapa harus ada surat ‘Abasa? Itu semua sebagai bukti bahwa al-Qur’an itu bukan dari diri Nabi Muhammad, tapi diturunkan oleh Allah kepada beliau.
            Atau, kalau al-Qur’an itu buatan Nabi Muhammad, bukankah beliau tidak bisa membaca dan menulis, maka dari manakah beliau tahu tentang kisah para nabi sebelumnya, padahal jaraknya ratusan, bahkan ribuan tahun? Toh, kalaupun beliau bisa membaca dan menulis, bukankah sejarah mencatat bahwa pada zaman Nabi Muhammad, kitab Taurat dan Injil masih dalam bahasa Ibrani dan belum ada terjemahannya dalam bahasa Arab? Lantas, dari mana Nabi Muhammad mendapatkan informasi?
            Lebih heran lagi, dari mana Nabi Muhammad tahu proses perkembangan janin dalam rahim, sebagaimana tertulis dalam surah Al-Insan ayat 1 s/d 10, padahal ilmu kedokteran belum lahir dan peralatan canggih baru ditemukan 14 abad kemudian? Atau, dari mana Nabi Muhammad tahu tentang proses terjadinya bumi yang tertulis dalam surat Al-Anbiya ayat 30 dan ini dibenarkan oleh para ilmuan modern dengan teori ‘Big Bang’ nya? Atau, dari mana Nabi Muhammad tahu bahwa pertemuan antara dua laut (muara) ada pemisah seperti dinding? Atau, dari mana Nabi tahu bahwa bumi lah yang mengelilingi matahari melalui jalur edarnya? Itu semua menunjukkan bahwa al-Qur’an itu datang dari Allah.

  1. 2.      UNGKAPAN TOKOH DUNIA
Kita dengarkan pendapat non-muslim Barat. “Kitab suci al-Qur’an”, tulis Michael H. Hart dalam bukunya ‘Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah’, “Adalah kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal dari Allah. Sebagian besar dari wahyu ini disalin penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup, kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyahkan tak lama setelah ia wafat. Dengan demikian, al-Qur’an berkaitan erat dengan pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya, karena dia bersandar kepada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena al-Qur’an bagi kaum Muslimin, sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantara al-Qur’an teramat besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu.”
Nah, orang di luar Islam saja meyakini al-Qur’an adalah wahyu dari Allah, apalagi kita sebagai Muslim?
Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.” (QS [26] : 192)

  1. 3.      KEBESARAN BARAT BERSUMBER DARI AL-QUR’AN
Terjadinya renaissance (ketercerahan; kebangkitan kembali) di Barat, tak luput dari cahaya al-Qur’an. Kebangkitan ilmiah modern, sebagai tanda renaissance, telah menjadikan Barat sebagai Negara maju dan super power. Yang menjadi pertanyaan, siapakah yang menemukan teori ilmiah itu?
Penemunya bukanlah Roger Bacon sebagaimana yang diklaim orang Barat, tapi seorang Muslim, beliau bernama Ibnu Al-Haitsam (lahir 965 M). Orang Barat lebih mengenalnya dengan nama Alhazen, Avenetan atau Avennethan. Beliau sebagai peletak dasar ilmu fisika optik, menguasai ilmu fisika, ilmu optik, filsafat, matematika, farmakologi (obat-obatan), dan menulis tidak kurang dari 200 karya ilmiah. Karya-karya Ibnu Haitsam itu dikumpulkan oleh George Sarton dalam buku “Introduction to The Study of Science”.
Dan Ibnu Haitsam menemukan teori-teori ilmiahnya diilhami oleh al-Qur’an. Sebab, dalam al-Qur’an berulangkali Allah menyuruh kita memperhatikan semua ciptaanNya; langit, bumi, matahari, bulan, laba-laba, unta, diri manusia, tanaman, dan benda-benda lainnya sampai kepada materi terkecil yang kasad mata. Itulah yang mendorong ilmuan Muslim untuk melakukan eksperimen, observasi, riset, dan penelitian. Dari sanalah lahirnya berbagai macam disiplin ilmu, seperti fisika, biologi, kimia, astrologi, geologi, dst.
Tentu saja, umat Islam tidak hanya memiliki Ibnu Haitsam, tapi masih ribuan lebih ilmuan atau sarjana muslim lainnya. Merekalah yang menjadi inspirasi orang Barat untuk melakukan penelitian ilmiah. Misalnya, Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, seorang tokoh matematika besar yang menemukan angka nol. Bukunya ‘Hisab al-Jabar wal Muqabla’ dan ‘Kitab al-Jama wat-Thariq’ sangat mempengaruhi ahli ilmu aljabar Leonardo Fibonacci dari Pisa, Italia.
Masih dalam matematika, kita pernah belajar tentang sinus, kosinus, tangen dan kotangen? Atau, kita yang hobi ilmu astronomi, pasti pernah mendengar istilah azimuth, zenith dan nadir? Tapi, pernahkan guru kita menceritakan siapa yang menciptakan istilah-istilah itu? Padahal, yang menemukannya adalah sarjana muslim bernama Al-Battani, di Barat disebut Albategni atau Albategnius.
Dalam bidang kedokteran, kita memiliki Ibnu Sina (981-1037). Di Barat beliau dikenal dengan nama Avecienna. Dr. William Osler (penulis buku ‘The Evolution of Modern Science’), dalam mengomentari buku Ibnu Sina ‘Al-Qanun fi Ath-Thibb’ (The Canon of Medicine), ia menulis “Qanun telah mewariskan sesuatu, dan menjadi kitab suci dunia kedokteran dalam jangka yang sangat lama, melebihi buah karya apa pun di dunia ini.”
Bagi anda yang suka ilmu kimia, anda mungkin lebih kenal dengan Antonie Lavoisier (1743-1794) sebagai perintis kimia modern daripada Jabir Hayyan al-Kufi (738-813) dan Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakariya al-Razi (865-925). Padahal, apa yang orang Barat sebut “Kimia Kontemporer”, 1200 tahun sebelumnya telah ditemukan olehnya.
Dalam bidang Astronomi, ada Ibnu as-Shatir (1304–1375M), yang menulis buku ‘Nihayat as-Sul fi Tashih al-Usul’ yang menerangkan tentang bumi mengelilingi matahari. Ibnu as-Shatir lebih tua daripada Copernicus (1473-1543M), dan karya Copernicus sangat mirip dengan karya Ibnu as-Shatir. Ada dugaan, karya Copernicus nyontek dari hasil pemikiran Ibnu as-Shatir.
Dalam bidang filsafat, ada Ibnu Rusyd (1126-1198) yang dihormati orang Barat dengan nama Averroes. Dalam bidang sosiologi, politik dan sejarah, ada Ibnu Khaldun (lahir 27 mei 1332) sebagai peletak pertama ilmu itu. Dalam bidang Navigasi, ada Ibnu Batutah (1304-1377) yang menjelajah dunia dari Rusia hingga Samudra Pasai, dan Ibnu Majid yang menemukan kompas modern. Jadi, betapa banyaknya ilmuan Muslim yang menjadi rujukan orang Barat, sebelum terjadi kebangkitan ilmu pengetahuan. Bila anda ingin tahu lebih jelas mengenai tokoh tersebut dan lainnya, sebaiknya anda baca buku ‘Dari Penakluk Jerussalem Hingga Angka Nol’.
Untuk membuktikan kebenaran bahwa Barat maju karena berguru kepada sarjana Muslim, marilah simak kutipan pengakuan Briffault, dari buku ‘Making of Humanity’ :
“Roger Bacon telah belajar bahasa dan ilmu pengetahuan Arab (Islam) di Oxford. Baik Bacon maupun kawan sejawatnya yang kemudian, tidak berhak disebut sebagai orang yang telah memperkenalkan metode eksperimen. Roger Bacon tak lebih hanya salah satu utusan saja dari ilmu pengetahuan dan metode Islam kepada dunia Kristen di Eropa, dan dia pun tak kenal letih mengumumkan bahwa pengetahuan bahasa dan ilmu pengetahuan Arab bagi mereka yang sezaman adalah satu-satunya jalan ke arah pengetahuan sebenarnya. Perdebatan-perdebatan, misalnya, tentang siapa pencipta pertama metode eksperimen ialah sebagian dari salah penafsiran besar sekali tentang asal usul peradaban Eropa. Metode eksperimen Islam itu pada masa Bacon secara luas dan sungguh-sungguh disebarkan ke seluruh Eropa.” (halaman 202)

  1. 4.      MARI BACK TO AL-QUR’AN
Bagi yang masih belum percaya tentang uraian diatas, tidak mengapa, karena anda bisa mengecek sendiri dengan membacanya di halaman buku-buku yang sudah disebutkan. Pertanyaan selama ini adalah, mengapa zaman sekarang Negara Muslim banyak yang tertinggal? Sedangkan umat terdahulu maju dan berkembang karena lahirnya Islam? Jawabannya hanya satu, yaitu kita sudah berani meninggalkan al-Qur’an. Kita menganggap pemikiran Barat itu modern sedangkan pemikiran Islam itu terbelakang, padahal hal itu merupakan hal yang paling keliru yang pernah diucapkan seorang Muslim. Tentulah kita harus tetap memegang al-Qur’an, sebagaimana nabi yang telah memberikan 2 hal yang jika dipegang oleh umat manusia tidak akan pernah tersesat, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.
Mari kita kembali kepada pedoman kita, al-Qur’an. Dengan kembali dan memahami kandungan yang ada dalam al-Qur’an, Insya Allah Islam akan kembali Berjaya untuk yang kedua kalinya sesuai janji Allah swt., sebelum datangnya hari Kiamat. Semoga…
Dari Abu Najih Al-Irbadh bin Sariyah ra., dia berkata : “Rasulullah saw telah memberi nasihat kepada kita dengan suatu nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata.” Maka kami berkata : “wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat orang yang sedang berpamitan, maka berilah kami wasiat.” Maka nabi lalu bersabda : “aku berwasiat kepadamu, hendaklah bertakwa kepada Allah Ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena diantara kalian yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyak perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah ia dengan geraham (genggamlah dengan kuat ajaran itu). Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) lihat hadits arba’in an-nawawiyah nomer 28.
Di kutip dari berbagai sumber

 


Salam Hormat Idik Saeful Bahri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAFTAR NAMA SELURUH ALUMNUS MTsN SINDANGSARI 2010